ASPEK AKSIOLOGIS DALAM TRADISI PERAYAAN IMLEK

oleh: Reny Sri Dian Mayasari

•  PENGANTAR

Alam dengan seluruh gejalanya, dan kesatuan manusia di dalamnya, ternyata tak hanya melahirkan berbagai filosofi, sejenis kepercayaan, dan system nilai. Sejarah kebudayaan berbagi bangsa dimanapun selalu menunjukkan bagaimana kesatuan manusia dan alam dengan seluruh gejalanya itu, yang melahirkan berbagai cara pandang dan kesadaran mereka untuk memaknai waktu.inilah juga yang menjadi permulaan Imlek. Sebuah festival atau perayaan tahun baru dalam tradisi dan kebudayaan cina yang tak bisa disendirikan dari jejak fenomena kesatuan manusia dan alam dengan seluruh gejalanya.

Menengok ke belakang tradisi ini sesungguhnya lebih merupakan peayaan tahun baru yang ada hubunganya dengan sejenis kepercayaan atau agama apapun. Aslinya Imlek Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang di lakukan oleh para petani di cina yang bisaanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini di mulai tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Ilek, sembahyang kepada sang pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah untuk mengucap syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rejeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Karena Imlek berasal dari kebudayaan petani maka segala bentuk persembahanya adalah berupa berbagai jenis makanan

Disinilah akhirnya kita tahu bahwa awalnya imlek sebagai tradisi lahir sebagai hasil budaya masyarakat agraris karena itu lah Imlek sering kali di sebut dengan Nungli, yakni kalender pertanian. Tentu saja dalam rentan waktu ribuan tahun berbagai pergeseran dan perubahan cara pandang di dlamnya mengalami perubahan dari generasi ke generasi. Namun identitasnya sebagai sebuah tradisi yang berhubungan dengan pemaknaan manusia atas waktu dan harapan tetaplah yang menjadi landasan pokoknya.

Maka dari itu penulis mencoba untuk menggali nilai-nilai yang terkandung di balik perayaan Imlek yang menjadi tradisi masyarakat cina, diantaranya yaitu nilai religius dan nilai estetis.

•  PEMBAHASAN

Tinjauan Tentang Aksiologi

2.1 Pengertian Aksiologi

Pengertian aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axios. Dari kata axios ini lahir istilah aksiologi yang dipakai untuk menyebut istilah filsafat nilai. Jadi aksiologi dimaksudkan sebagai ilmu yan menyelidiki tentang hakikat nilai (kattsoff L.O.,1986).

Manusia tidak akan lepas dari nilai. Nilai selalu mengilhami, mendorong keinginan untuk dikonkritkan dalam tingkah perbuatan. Hal ini dikatakan Sidi Gazalba:

Manusia bertindak, berlaku dan berbuat. Dibelakang tiap tindakan laku perbuatanya selalu ada motif, manusia berbuat karena ada sesuatu yang ingin dicapainya. Kalau yang dituju tercapai puaslah dia. Kepuasan terjadi kalau sesuatu yang di pandang berharga tercapai. Tiap yang berharga di pandang berharga mengandung nilai”(Sidi Gazalba, 1978;468-469)

Di dalam nilai terkandung harapan atau sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Ini berarti bahwa nilai bersifat normatif, mengandung keharusan ( das sollen ) untuk di ejawantahkan dalam kehidupan manusia sehingga nilai berfungsi sebagai penggerak manusia dalam bertindak seperti kata Gazalba pulas:

”Tiap yang dipandang berharga itu menggandung nilai, maka manusia dalam tindakan dan laku pernuatan digerakkan oleh nilai-nilai” (Sidi Gazalba, 1978;469)

Kattsoff menjelaskan pengertian nilai melalui term-term yang berkenaan dengan persoalan nilai. Kattsoff memberikan empat macam arti nilai:

•  Mengandung nilai artinya berguna

•  Merupakan nilai, artinya merupakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap menyetujui atau mempunyai sifat nilai tertentu.

•  Memberi nilai, artinya memutuskan bahwa sesuatu hal itu diinginkan atau mewujudkan suatu nilai (Kattsoff, L.O., 1986; 332)

Diantara term-term yang dikemukakan terlihat adanya pernyataan yang bersifat obyektf bahwa nilai adalah suatu ”sifat” yang dikandung oleh suatu obyek yang dapat menimbulkan sifat setuju. Apabila istilah ”bernilai” diartikan ” berguna” maka hal ini mengandung pengertian subyektif, dan kegunaan sesuatu hal sudah tentu karena didukung oleh ”sifat” yang dikandungnya. yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental.

Macam-macam nilai timbul karena nilai itu dapat mempunyai arti yang berbeda-beda, serta digunakan untuk bentuk yang berbeda-bedapula. Dalam hal ini Kattsoff menyebutkan dua macam nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. (Kattsoff, L.O., 1986; 328-329)

Nilai intrinsik adalah suatu sifat baik atau bernilai di dalam dirinya sendiri dari benda yang bersangkutan. Nilai intrinsik ini masing-masing disamakan dengan nilai yang melekat dalam dirinya terlepas dari penilaian orang. Nilai instrumental disebut juga sebagai nilai ekstrinsik, yaitu suatu sifat baik atau bernilai dari suatu benda sebagai suatu alat atau sarana untuk sesuatu hal y6ang lain atau nilai yang baru diketahui setelah barang tersebut digunakan. Nilai instrumental ini sering disamakan dengan nilai kegunaan. Cara menentukan berniali tidaknya dalam nilai instrumental ini adalah dengan mengetahui seberapa jauh fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.

Penilaian seseorang pada sesuatu hal sering diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, semakin besar kepentinganitu, semakin besar penilaian terhadap sesuatu. Dalam penerapan kedua nilai ini , baik nilai intrinsik maupun nilai instrumental tidak harus dipisahkan, sesuatu benda atau obyek dapa dinilai memiliki segi intrinsik atau mampu secara ekstrensik.

Nilai religius sebagai salah satu jenis nilai manusiawi dalam kehidupan manusia sebagai:

•  Pemujaan (worship), yaitu kebahagiaan dalam tindakan manusia yang memiliki kepercayaan menyembah Tuhan atau Dewa.

•  Pengukuhan (affirmation), yaitu perasaan diri bahwa telah disahkan dalam tujuan-tujuan yang lebih tinggi karena secara resmi telah masuk dalam suatu masyarakat religius.

•  Persaudaraan (fellowship) yaitu perasaan yang diperoleh dari pergaulan dalam suatu kelompok keagamaan.

•  Kepastian (assurance), yaitu keyakinan bahwa di balik dunia fenomenal ini ada tuhan Yang Maha Pengasih.

•  Harapan (hope), yaitu perasaan optimis bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan atau tentang dunia-akhirat yang kekal dan bahagia.

•  Identitas Imlek Dalam Tradisi Perayaan Imlek

Penanggalan Imlek

Sesungguhnya kapan dan bagaimanakah sesungguhnya Imlek sebagai tradisi ini berawal? Menurut pengamat budaya Tiongkok, Soeria Disastra, meski tak ada fakta yang utuh untuk bisa menjadi semacam penjelasan sejarah, diperkirakan tradisi ini berawal sejak 2000 tahun sebelum masehi. Ketika itu ada seorang raja dari kerajaan Sun yang terkenal sebagai raja yang piawai memimpin rakyatnya dalam persoalan pertanian. Dialah yang pertama menetapkan sebuah awal bagi permulaan suatu tahun dengan membuat perayaan. Namun kalender tahunan ini selalu mengalami perubahan setiap kali generasi para raja yang berkuasa berganti. Demikian juga dengan tradisi yang mengikutinya. Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek , yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM), di mana pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musin dingin. Nabi Khongcu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM) merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang mempunyai nilai praktis, yaitu karena tahun baru jatuh jatuh pada hari Tangcik ( Tung Ze ).Saat itu hari tengah musim dingin maka pendapat Nabi Khongcu, penanggalan Dinasti He yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari Sabda Nabi Khongcu : "Pakailah penanggalan Dinasti He ..." Kitab Sabda Suci (Lun Gi / Lun Yu ) jilid XV : 11 .

Imlek sendiri pengertiannya tak bisa dipisahkan dari Im dan Yang, negatif dan positif atau gelap dan terang. Li itu adalah kalender. Jadi Im-Lek itu adalah kalender. Kalau bahasa standarnya Yang-Li dan Yin Li atau Im-Li, kalender berdasarkan peredaran bulan. Bulan di sini diartikan sebagai Im atau Yin, perempuan. Kalau perhitungan berdasarkan peredaran matahari namanya Yang-Li. Yang itu laki-laki. Maka di sini Imlek itu adalah kalender yang diperhitungkan berdasarkan peredaran bulan, Imlek juga kerap disebut sebagai hari raya atau festival musim semi. Namun identitasnya adalah tetap sebagai sebuah tradisi yang berhubungan erat dengan pemaknaan manusia atas waktu dan harapan. Termasuk, misalnya, bagaimana pemaknaan atas harapan itu juga terdapat dalam mitos mengenai barongsai."Barongsai adalah sejenis makhluk khayalan yang dibayangkan bisa menolak bala atau segala sesuatu yang bisa mengganggu. Karena itulah di bank atau di tempat-tempat tertentu selalu di tempatkan makhluk menyerupai singa, jadi mereka seolah-olah menjaga atau menghalau bala.

Maka inilah agaknya filosofi yang tersirat dalam perayaan tahun baru Imlek, yakni ketika manusia memaknai waktu dan harapan-harapannya seraya menjaganya dari berbagai gangguan. Imlek dengan kata lain menempatkan manusia di antara tarik-menarik realitas hidup dan dunia ideal yang dibayangkan sebagai harapan atas waktu, kemakmuran, ,rezeki dan kedamaian. Perayaan dengan berbagai upacara ritual bisa dikatakan sebagai upaya untuk melindungi dunia ideal tersebut.

Rangkaian Kegiatan Keagamaan Imlek

Perayaan Tahun Baru Imlek sudah mulai dipersiapkan ritual keagamaannya sejak 7 hari menjelang tahun baru dengan melaksanakan sembahyang menghantar Malaikat Dapur (Co Kun Kong), dan bagi umat Khonghucu yang penghidupannya sudah mapan saat ini berkesempatan untuk memberi santunan kepada mereka yang berkekurangan. Maka hari itu disebut juga sebagai Hari Persaudaraan (Ji Si Siang Ang).

Selanjutnya sehari sebelum tahun baru, sembahyang penutup tahun sekaligus menyambut tibanya tahun baru yang dilakukan persujudan rasa syukur ke hadirat Tuhan yang berkenan melindungi dan memberkahi sepanjang tahun yang akan ditinggalkan dan memohon agar tahun yang akan dimasuki dapat menghantar kepada kondisi kehidupan yang lebih baik daripadaa tahun lalu. Dalam sembahyang ini disampaikan pula hormat kepada orang tua yang sudah meninggal dunia juga kepada leluhur sebagai perwujudan bakti dan rasa terima kasih atas asuhannya. Hari itu juga biasanya para keluarga memperindah rumah, membuat kue, dan melaksanakan perayaan ini secara sederhana, tulus dan penuh hikmah tanpa kesan berlebihan.

Pada saat memasuki detik-detik tahun baru, sembahyang dilaksanakan lagi dengan penuh hikmat, khusuk dan gembira kemudian saling memberi hormat dan mendoakan semoga panjang umut, murah rejeki dan sehat sejahtera sambil memohon ampunan kepada orang tua dengan melakukan sungkem/hormat (Kui Ping Sien). Sedangkan kepada saudara saling memaafkan lalu saling mengunjungi sanak keluarga dan sehabat untuk menyampaikan hormat dan saling mendoakan diiringi maaf memaafkan.

Hari keempat di tahun yang baru dilakukan sembahyang untuk menyambut turunnya Malaikat Dapur (Co Kun Kong). Dapur merupakan salah satu bagian penting dari sebuah rumah tangga, karena di tempat ini semua kegiatan mengolah makanan untuk santapan keluarga dilakukan. Oleh karenanya dapur perlu dipelihara dengan baik, selain perlu selalu dijaga kebersihannya.

Kemudian hari kedelapan menjelang hari kesembilan (dilaksanakan pada Si/jam pertama), sembahyang beesar kepada Tuhan (King Thi Kong). Sesuai dengan amanat suci dalam Kitab Lee Ki (kitab kesusilaan), dilaksanakan dengan mempersiapkan diri secara khusus berpantang makanan (berpuasa/vegetaris) sejak hari ketiga sampai berakhirnya sembahyang King Thi Kong. Sembahyang ini merupakan sembahyang besar dengan peyerahan diri secara total kepada Tuhan yang bermakna betapa manusia demikian kecilnya di hadapan-Nya.

Pada hari ketigabelas, dilaksanakan upacara suci memperingati kemuliaan Kwan Kong (Dewa yang melambangkan sikap Ksatria, Setia, Berani, Bijaksana, dan taat pada agama).

Pada hari kelimabelas dilaksanakan upacara Purnama Raya (Cap Go Meh/Goan Siau) hari yang penuh makna, dan sarat dengan upacara keagamaan Merayakan Tahun Baru

•  Nilai Religius Dalam Perayaan Imlek.

Pergantian tahun yang baru merupakan suatu penyesuaian terhadap gejala alam semesta, yang dilambangkan berkah-Nya melimpah bagi semua mahluk hidup. Di dalam kehidupan manusia, tahun baru merupakan suatu masa tentang keharmonisan dalam tata kehidupan, semua umat bergembira menyambut kehadiran tahun yang baru ini dengan penuh harap. Sesungguhnya apa bedanya tahun kemarin dengan tahun baru, malam kemarin dengan malam tahun baru? Mengapakah pergantian tahun disertai dengan makna yang sarat, sehingga sanggup menghimpun manusia untuk merayakannya?

Pergantian tahun merupakan suatu momentum untuk menyadari secara mendalam, bahwa kita terikat oleh waktu. Bersamaan dengan itu gejala perubahan alam dalam masa pergntian tahun, manusia diingtkan bahwa ia hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Keterikatan perjalanan hidup terhadap ruang dan waktu menyadarkan kita sebagai makhluk yang kecil dan lemah di hadapan Tuhan, kekuasaan yang mengatur alam semesta ini. Sekurang-kurangnya manusia mengucapkan syukur, berterima kasih karena masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dalam ruang dan waktu ini. Karunia Thian, Tuhan YME berlimpah dicurahkan kepada umat manusia. Oleh karena itu sudah sewajarnya manusia sadar untuk berusaha menengadah mengucapkan puji syukur. Pada saat ini kita berusaha memperbaiki diri dan mengakhiri semua permusuhan, kebencian, dan kejahatan.

"Sungguh Maha Besarlah Kebijakan Kwi Sien (Tuhan dalam sifat-Nya Yang Maha Rokh). Dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besarlah Dia, sehingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguh jelas sifat-Nya yang halus itu, sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia." Kitab Tengah Sempurna (Tiong Yong / Chung Yung) Bab XV.

Pada hari pertama tahun baru Imlek semua umat Khonghucu bertingkah laku dengan cara yang berlainan dari biasanya. Rumah dibersihkan, orang menghias diri dengan pakaian yang baru, menyediakan makanan yang enak. Kesemuanya itu, seluruh kehidupan jasmani rohaninya diliputi rasa gembira dan bahagia, yang dibarengi dengan rasa dan suasana cinta kasih kepada sesama manusia, rasa syukur kepada Tuhan YME.

Seperti juga tradisi-tradisi lain yang menempatkan waktu sebagai penanda suatu pergantian siklus, Imlek juga memiliki suatu malam di mana setiap orang tidak tidur untuk menunggu detik-detik pergantian tahun. Dan pada malam itulah para oranng tua diam-diam memberi angpao pada anak-anaknya ketika mereka sudah tidur dengan cara menyelipkannya di bawah bantal. Makna dari pemberian angpao ini bukan hanya bertujuan agar anak-anak itu merasa senang, namun juga sebagai pemaknaan pada masa depan dan harapan yang disimbolkan oleh anak-anak sehingga ia kelak bisa hidup makmur.

•  KESIMPULAN

Akhirnya dapat di simpulkan bahwa Tradisi perayaan Imlek tidaklah lahir dengan begitu saja, tetapi dilahirkan dengan melalui perjalanan sejarah yang panjang dari masa lampau, walaupun kini telah sedikit mengalami pergeseran makna atas bentuk perayaanya namun Imlek dengan segala nilai yang terkadung di dalamya adalah peristiwa ketika sebuah harapan akan kehidupan yang lebih berbahagia hendak kembali ditemukan dalam sebuah perayaan siklus pergantian dan pergerakan alam yang menjadi manifestasi dari waktu. Seperti dalam tradisi perayaan-perayaan keagamaan dan kepercayaan lainnya, harapan-harapan itu selalu ditaruh dalam ruang permulaan. Dalam konteks Indonesia, memaknai kembali waktu dan mulai kembali menaruh suatu harapan di dalamnya sungguh teramat penting. Lewat Imlek, paling tidak kita diingatkan untuk tidak terus berputus-asa berharap dan menjaga setiap harapan itu.

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, lorens. 1996. Kamus Filsafat. Gramedia: Jakarta.

Frondizi,Risieri. 1963, What is velue?. Terjemahan Wijaya,Cuk Ananta, Pengantar Filasafat Nilai 2001. Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Imran, Ahda. Imlek, Alam,Manusia, dan Waktu. Pikiran Rakyat Pada: http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Budaya_Bangsa/Pecinan/Barongsai_1.ht ml

Jimmy,Sofyan.1999, Makna Perayaan Tahun Baru Imlek . Manado Post, pada: www.geocities.com/CollegePark/Hall/1981/ imlek _1.htm-10k

Katsoff Louis O., 1962, Elements of Philosophy. Terjemahan. Soejono Soemargono,

Pengantar filsafat 1986. Tiara Wacana, Yogyakarta.

Surjana, Harry.2006, Imlek. Pikiran Rakyat Pada:

www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/012006/28/khazanah/ - 24k - 14 Peb 2006

 

Lanjut>
<Kembali
 
 
Menu
 
     
web lain
- UGM
 
 
 
 
   
  © Copyright 2006-07. jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id (v.1.1)    Free web templates by MyFreeTemplates.com