PRODUK NASIONAL DI KANCAH GLOBAL DALAM KONSEP GERAKAN SWADESI GANDHI
oleh: Heru Triyono
Pendahuluan
Indonesia sebagai negara berkembang tentu ingin produk-produk dalam negerinya bisa mengglobal dan membawa nama negeri ini dalam kancah ekonomi global. Seketika hal seperti ini adalah mimpi yang sangat sulit menjadi kenyataan. Fakta berbicara orang Indonesia sendiri lebih menyukai produk luar dari pada produk nasional, yang memang dari segi kuantitas maupun kualitas sangatlah sulit bagi produk nasional untuk bisa bersaing. Sebagai contoh ketika produk Cina menyerbu pasaran di Indonesia, misalnya produk otomotifnya yang harganya jauh dari pasaran yang sedang berlaku di Indonesia, kemudian merambahnya produk-produk sepatu Cina yang harganya jauh dibawah harga sepatu produk lokal, dengan kualitas sama. Membuat hancurnya pasaran produk lokal.
Sungguh sangat sulit untuk produk nasional apabila dihadapkan pada era global ini, dimana untuk mendapat tempat di dalam negeri saja sulit apalagi untuk go internasional, kemudian ditambah lagi belum familiarnya pengusaha lokal dengan teknologi informasi yang membuat akses untuk merambah pasar dunia semakin sulit. Serba kekurangan memang, dilema yang dihadapi bukan dari segi kualitas dan kuantitas saja namun yang harus dihadapi juga adalah mental dan juga kesadaran dari konsumen kita yaitu orang Indonesia . Mereka lebih suka memakai produk luar negeri karena prestise yang akan mereka sandang, sebuah contoh minimnya kesadaran orang Indonesia untuk memajukan bangsanya sendiri. Pemerintah pun lepas tangan dengan makin banyaknya produk luar berkeliaran di negeri kita. Kaitannya dengan kebijakan ekonomi pemerintah, seharusnya pemerintah bisa mengatur dan menyeleksi tentang produk luar negeri yang akan masuk ke Indonesia dan bisa memperkirakan apakah dengan masuknya produk tersebut akan menghancurkan pasaran produk lokal di dalam negeri. Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang tentu saja harus menguntungkan produk dalam negeri. Sebuah contoh ironis, Indonesia sebagai negara yang mempunyai garis pantai terpanjang dunia dalam satu tahunnya masih mengimpor garam sebesar satu juta ton dari Australia . Pertanyaannya adalah apakah anak negeri tidak mampu untuk hanya sekedar memproduksi garam.
Terlepas dari itu semua, patut diingat Indonesia adalah bagian dari tatanan global, dari sinilah berawal. Tekanan pasar global lewat kebijakan-kebijakan ekonomi negara-negara maju sungguh dirasakan imbasnya oleh para pengusaha di Indonesia. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa negara-negara dunia ketiga adalah pasar ekonomi bagi negara-negara maju. Tekanan ekonomi yang mengatasnamakan janji-janji kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan merupakan awal untuk kemudian menguasai negara-negara seperti Indonesia ini. penyedotan sumber daya alam negeri ini sejak lama merupakan contoh konkrit bagaimana negara maju menghisap negara-negara seperti Indonesia . Tidak tersisa memang apabila berkaca dari fenomena ini, semuanya telah di hisap habis oleh negara-negara maju.
Pengetahuan yang dimiliki masyarakat bukan tidak cukup untuk mengetahui bahwa produk nasional masih mampu bersaing, namun ketika dihadapkan pada dua pilihan, mereka akan berpikir kembali untuk memakai produk nasional. Sadar atau tidak sadar inilah fakta yang terjadi. Mereka lebih bangga jika memakai produk luar. Disatu sisi negara Indonesia dengan segala sumber dayanya yang ada tidak mampu menasionalkan sendiri sumber dayanya, berapa banyak perusahaan asing yang mendapat tempat di pulau-pulau besar untuk mengelola kekayaan alam kita, kemudian dijuak kepada kita dengan harga yang sangat tinggi.
Sebuah contoh sebenarnya telah terjadi di India pada abad 19, ketika Mahatma Gandhi berjuang melawan imperialisme Inggris dengan gerakan Swadesinya. Sangat relevan ketika kita berbicara tentang situasi ekonomi di Indonesia pada saat ini, dimana serangan deras arus global menggempur produk nasional yang mencoba berkembang. India berjuang dengan prinsip tidak ingin menggantungkan nasib perekenomiannya di bawah kendali Inggris. Apa yang terjadi di negara-negara dunia ketiga khususnya Indonesia adalah sama, imperialisme dalam bentuk intervensi ekonomi negara maju merupakan sebuah bentuk baru penjajahan. Disini terlihat jelas bahwa yang berubah hanyalah waktunya namun tujuannya adalah sama yaitu menjajah, tetapi dalam kerangka ekonomi.
Disini Penulis mencoba untuk menerjemahkan gerakan Swadesi India ketika waktu itu yang mempunyai semangat kelokalannya, yang kemudian dijadikan gambaran bagaimana India saja bisa melawan dan mempunyai sikap yang jelas dalam menolak produk-produk impor dari Inggris. Yang perlu saya tekankan disini adalah bahwa sebenarnya kita juga punya berdikarinya Soekarno, kemudian tirai bambunya Mao Zedong di Cina. Namun konsep Ghandi, yaitu Swadesi yang akan saya gunakan untuk pembahasan nantinya.
Sejarah Gerakan dan Pemikiran Swadesi Ghandi di India
Imperialisme Inggris ke India itu terutama sekali adalah imperialisme dagang. Handels-imperialisme. Membawa barang ke India untuk dijual ke India . Barang-barang seperti gunting, pisau, sepeda, mesin jahit dan bahan pakaian. Agar rakyat India bisa membeli, suka membeli, ingin membeli, maka politik dari imperialisme Inggris di India berbeda dengan Belanda di Indonesia. Inggris tidak mematikan India sama sekali, mereka menumbuhkan kemauan membeli dan kemampuan membeli rakyat India dengan membentuk pola pikir rakyat agar menjadi pintar. Maka dibuatlah sekolah-sekolah untuk mereka, seperti universitas Koopracht dan koopwil. Tetapi hal ini kemudian mendapat tentangan dari kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh dengan penjualan-penjualan produk mereka sendiri, jadi yang paling mendapat saingan dari handles-imperialisme Inggris itu, ialah justru kelas pertengahan dan kelas borjuis.
Oleh karena itu gerakan menentang imperialisme Inggris ini, mula-mula terutama sekali keluarnya dari kelas pertengahan dan kelas borjuis. Yang kemudian membentuk Indian National Conggress tahun 1885. Pemimpin-pemimpinnya ialah kaum kapital. Kemudian penentangan tersebut mendapat dukungan dari rakyat India . Semboyan ekonomisnya ialah Swadesi yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi. Gerakan Swadesi mempunyai harga moril yang tinggi sekali bagi bangsa India . Dianjurkan bagi kepada bangsa untuk membuat sendiri keperluan hidupnya. Swa artinya sendiri, desi dari perkataan desa, yaitu negeri sendiri. Swadesi artinya desa sendiri.
Pemikiran yang di kreasi oleh Ghandi ini bukan tidak ada kelemahannya sama sekali, menurut founding father kita yaitu Soekarno, Swadesi dianggap menghambat kemajuan negeri India dikarenakan gerakan ini sangat anti terhadap mesin yang mengganti pekerjaan manusia dan Ghandi menganggap kalau mesin tersebut sebagai setan. Kemudian yang terjadi adalah bangsa India tenggelam dalam euforia dalam menentang semua produk-produk Inggris dan mengabaikan pendapat Ghandi itu sendiri. Mungkin para pengusaha bangsa India dalam hal ini kaum menengah yang terkena dampak dari imperialisme Inggris berpikir keras bagaimana melawan gempuran yang dilakukan produk buatan Inggris kalau hanya mengandalkan tenaga manusia. Yang terjadi adalah kaum menengah di India dengan dukungan rakyat India menginginkan produk mereka sendiri yang harus menjadi tuan di negeri sendiri.
Pada hakekatnya gerakan Swadesi ini adalah satu penentangan terhadap imperialisme, di dalam praktiknya gerakan Swadesi langsung menyentuh sektor riil yaitu rakyat memulai dengan menanam kapas sendiri, memintal benang, menenun sendiri. Implikasinya adalah mereka sangat menghargai hasil karya sendiri, dengan tidak mau membeli produk-produk Inggris (boycot action) . Tidak boleh rakyat terutama sekali anggota-anggota dari Indian National Conggress membeli barang-barang buatan Inggris. Bahkan barang-barang buatan Inggris kadang-kadang diserbu, dibawa ke luar, ditumpuk, ditimbun, dibakar. Seperti yang terjadi di Chouri Chora. Dengan gerakan swadesi ini maka handels-imperialisme Inggris menjadi lumpuh, karena seluruh rakyat tidak mau membeli barang-barang buatan Inggris itu. Swadesi akhirnya berhasil. Pihak imperialisme Inggris kewalahan dan pada tahun 1947 India diberi kemerdekaan kemudian pada tanggal 26 Januari 1950 menjadi Republik India tetapi masih didalam Commonwealth.
Pola Pikir Masyarakat Indonesia tentang Produk Nasional
Kondisi produk-produk nasional dalam era global ini sungguh menyedihkan, perhatian masyarakat tentang produk nasional mungkin sekedar tahu, bahwa masih ada produk-produk nasional yang masih bisa bersaing dengan produk luar negeri. Setelah itu mereka terlena dengan hebatnya produk yang berbau kebarat-baratan. Sebuah masyarakat yang mempunyai pola pikir barat, tetapi dengan kapasitas kemampuan ekonomi negara dunia ketiga. Sungguh ironis dan sangat berlawanan jika kita melihat keadaan riil sebenarnya bangsa ini, bisa dikatakan masyarakat negara miskin tetapi ingin sekali diidentikkan dengan kemapanan, kaya dan modern. Inilah dampak dari dicekokinya bangsa ini oleh budaya konsumerisme barat dan tatanan global yang mengancam genius lokal yang salah satunya adalah produk nasional.
Masyarakat Indonesia sepertinya sudah mengesampingkan rasa nasionalismenya untuk bisa bangga dalam memakai produk sendiri. Seperti bait sebuah lagu lama yang berisi “Dari mobil jepang sampai sedan eropa yang harganya berkisar seratus juta”. Bait lagu tersebut dibuat oleh grup band anak muda yaitu Neo yang menunjukkan dan sedikit menggambarkan tidak adanya kebanggaan orang Indonesia memakai produknya sendiri. Dalam kerangka pikir orang Indonesia yang paling penting adalah prestise, bahkan harga tidak masalah asal bermerk luar negeri. Mungkin kasarannya seperti itu.
Pola pikir seperti ini kian deras menyerang, setelah prestise kemudian masyarakat berbicara tentang kualitas dan harga, jawabannya masyarakat tidak percaya kepada produk nasional dan lebih memilih produk luar, tidak ada keinginan untuk memakai dan mencoba berspekulasi untuk menggunakannya. Ini mungkin lahir dari pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah, dimana produk nasional selalu dan melulu mengecewakan konsumen yang kemudian imbasnya tidak dipercaya lagi oleh masyarakat.
Menggunakan Produk Nasional di Era Global (Konsep Swadesi Gandhi)
Bangsa India yang sudah terlebih dahulu menolak imperialisme dalam bidang ekonomi, dengan memegang kuat prinsip Swadesi mereka percaya dengan kekuatan yang mereka miliki yang kemudian digunakan untuk melawan segala bentuk penjajahan. Kesederhanaan yang ditunjukkan oleh Gandhi sangat mencerminkan bahwa bangsa India memiliki sebuah gaya hidup yang sesuai dengan kemampuannya pada waktu itu. Pemboikotan produk Inggris apabila diinterpretasikan dalam konteks Indonesia dalam tatanan global bisa diartikan, kita harus berani untuk mangkir dari produk luar untuk menghidupkan produk nasional. Sebuah tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk melupakan segala keglamoran produk global dengan kembali dan mencoba kualitas lokal yang kita miliki bersama.
Indonesia dengan segala sumber daya yang dimilikinya merupakan aset yang sangat menunjang untuk menuju kemajuan dalam bidang ekonomi. Ketika Swadesi Gandhi menginginkan semua orang India memakai produknya sendiri, Indonesia mempunyai segala persyaratan untuk itu, kita dapat lihat sumber daya alam yang berlimpah, sumber daya manusia berjumlah ratusan juta dan sumber daya pendukung lainnya. tetapi yang menjadi pertanyaan apakah yang membuat produk nasional tetap kalah bersaing dalam percaturan perekonomian global.
Dalam contoh konkret kehidupan sehari-hari masyarakat, bisa dikatakan dari kebutuhan primer sampai tersier, tidak ada satupun kebutuhan yang lepas dari produk-produk luar negeri, bahkan konon, negara ini yang notabene adalah Negara yang mempunyai pantai terpanjang di dunia masih juga mengimpor garam sebanyak 1.000.000 ton pertahun dari Australia. Terlepas dari ada kepentingan-kepentingan tertentu didalamnya. Namun ini sungguh sangat ironis dan tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sebuah citra yang menandakan hilangnya nilai-nilai kebangsaan untuk menuju kepada kemandirian bangsa.
Semakin kompleks memang ketika produk nasional kalah segala-galanya dari produk luar, dari segi kualitas, harga kemudian luasnya jaringan. Apabila terpaan globalisasi tidak diikuti kesiapan para pengusaha produk nasional untuk cepat beradaptasi, jangankan mendapat laba, gulung tikar akan menjadi alternatif pertama. Ini belum ditambah isu-isu global seperti teroris misalnya, yang imbasnya Indonesia mendapat status travel warning dari beberapa negara yang mengakibatkan investor kabur. Yang semakin mempersulit berkembangnya produk nasional.
Kesalahan bukan sepenuhnya dari strategi yang dipakai oleh pengusaha produk nasional, namun lebih kepada kesadaran masyarakat untuk memulai mencintai dan percaya kepada produk dalam negeri. Kembali kepada prinsip pemikiran Gandhi yakni Swadesi yang menekankan bangsa India harus bisa berdiri diatas kaki sendiri, yang dilatar belakangi keinginan Gandhi untuk melawan kolonialisme dan imperialisme inggris pada saat itu, sangat relevan dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini yang tidak jauh berbeda dengan kondisi India saat itu. Sekarang, kolonialisme dalam bentuk produk luar dan dengan liar memasuki bangsa ini atas nama era global, membuat produk nasional seperti sulit bernapas. Prinsip Swadesi membuka wacana untuk melakukan sebuah gerakan cinta dalam memakai produk sendiri, tidak tergantung kepada barang-barang impor yang tidak terbendung masuk lewat pelabuhan-pelabuhan negara ini. Mandiri dalam artian yakin akan kemampuan sendiri dan berani menolak invasi produk luar. Jika semua mengacu dan selalu bermuara kepada kepentingan bangsa maka niscaya swadesi-swadesi lokal akan banyak bermunculan.
Asumsi dasar Gandhi ketika bergerak melawan imperialisme Inggris adalah untuk menghidupkan dan menanamkan betapa penting produk lokal untuk membangun ekonomi bangsanya, lewat sumber daya yang ada Gandhi berpikir tidak perlu masyarakat India harus mengimpor segala sesuatunya dari luar, mereka percaya dengan produknya sendiri. Gerakan swadesi memang pada awalnya adalah ketika para pengusaha-pengusaha India takut akan kedatangan produk-produk inggris yang bisa mengancam produk mereka. Kesadaran bahwa mereka yakin dengan produknya sendiri, kemudian yakin dan bangga merupakan modal untuk bisa bertarung dengan produk luar yang masuk.
Penutup
Keterpurukan produk lokal adalah bukan selalu salah dan menyalahkan globalisasi, dengan mengkambinghitamkan globalisasi menunjukkan bahwa kita memang lemah dan tidak punya daya saing. Riilnya sekarang masyarakat pintar menilai produk mana yang akan dipilihnya, lewat kualitas dan pengetahuannya mereka mampu untuk membedakan mana produk yang baik atau tidak. Tetapi berbicara tentang kesadaran masyarakat kita untuk memakai produk dalam negeri merupakan sesuatu hal yang sangat jauh dari harapan, ketika harga diri sudah berbicara, ketika gaya hidup kebarat-baratan sudah melekat, maka produk lokal tetap akan dipandang sebelah mata. Titik tolak dari tidak ada kesadaran masyarakat ini adalah seperti ini, mereka bukannya tidak bangga untuk memakai produk nasional, tetapi tidak percaya karena kualitas. Pekerjaan rumah yang harus dijawab oleh produk-produk nasional untuk menggugah rasa bangga masyarakat memakai produk buatan anak negeri.
Swadesi sebagai gerakan boikot, bukanlah sebuah kejahatan apabila kita melihat dari kacamata bagaimana kondisi negara Indonesia sekarang, terlepas dari tatanan global yang sangat membuat Indonesia semakin terpuruk. Jika tidak mulai dari dari kesadaran diri untuk bisa bangga memakai produk nasional maka bukan mustahil nanti kedepannya, tidak ada lagi produk nasional karena telah diambil alih oleh tangan-tangan global. Semakin nyata ketika kita melihat kondisi riil yang terjadi dimasyarakat. Tantangan bagi Indonesia kedepan dengan masyarakat yang cenderung kebarat-baratan dan gaya hidup konsumerisme yang masih tetap menomorduakan produk dalam negerinya sendiri.
Solusi yang seharusnya ada nantinya adalah bukan dengan membakar produk-produk luar atau dengan jalan memboikotnya dengan jalan tidak memasarkan ke masyarakat. Sebuah sudut pandang atau pola pikir baru yang harus tumbuh di masyarakat dalam melihat produk lokal, baik dari gaya hidup yang menjunjung tradisi tetapi tidak stagnan nilai kelokalannya saja tetapi tetap berpikir global untuk bisa tetap eksis dan tidak tertinggal di pasar global, kemudian masyarakatpun punya rasa bangga dan harga diri untuk memakai produk nasional.
Daftar Pustaka
Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat . Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Hadiwijono, Harun. 1971. Sari Falsafat India . Jakarta : Badan Penerbit Kristen
Wegig, Wahana. 1989. Dimensi Etis Ajaran Gandhi . Yogyakarta : Kanisius
Dari Internet
FNU Brawijaya Website dengan artikel Imperalisme...BK(2,
http://www.brawijaya.com , diakses pada tanggal19 Maret 2006
Kwik Kian Gie dalam Membangun Kekuatan Nasional Untuk Kemandirian Bangsa , karawang@polarhome.com , diakses pada tanggal 19 Maret 2006
Yuyus Suryana Sudarma dalam Perilaku Membeli Pengaruhi Pengangguran , http://www.pikiranrakyat.com , diakses pada tanggal 19 Maret 2006
Bisnis dan Investasi, Ekspor Turun, Indikasi Mulai Sulit Bersaing,
www.kompas.com , diakses pada tanggal 19 Maret 2006
Barry Burke dalam Mahatma Gandhi on Education , www.infed.com , diakses pada tanggal 30 Maret 2006
I Wayan Gede Suacana dalam segmen: Menyimak Alur pemikiran Tokoh-tokoh dunia Timur, www.balipost.com , diakses pada tanggal 30 Maret 2006
FNU Brawijaya Website dengan artikel Imperalisme...BK(2), http://www.brawijaya.com , diakses pada 19 maret 2006
|
|
||||||||
|
|||||||||
|