SUDUT ETIKA PADA UPACARA NYADRAN DALAM KEBUDAYAAN JAWA

Oleh: Aditya Ganjar PI.

PENGANTAR

Manusia dalam hidupnya di alam semesta ini seharusnya sedapat mungkin menjalin hubungan yang seimbang dan selaras dengan Tuhan, alam, serta manusia lain atau sesamanya. Hal ini sangat perlu dilakukan sebab manusia tidak mungkin hidup tanpa kehadiran mereka, baik disadari ataupun tidak.

Hubungan yang terjadi antara manusia, Tuhan, dan alam pasti akan menimbulkan suatu keterikatan yang akan terus berlanjut. Keterikatan inilah yang dapat menumbuhkan kerjasama satu sama lain sehingga lama kelamaan akan saling tergantung.

Setelah adanya saling ketergantungan antara manusia, Tuhan, dan alam, maka terciptalah suatu hutang atau jasa akibat dari hubungan satu dengan yang lain tadi. Hal ini disebabkan adanya hubungan timbal balik diantara mereka. Maksud hubungan timbal balik disini masih dalam konteks kebaikan, bukan saling menyakiti. Misalnya Tuhan sebagai pencipta yang mengadakan segala sesuatu di dunia termasuk orang tua kita masing-masing sebagai perantara hadirnya kita di alam semesta ini. Oleh karena itu kita mempunyai hutang kepada orang tua secara langsung dan secara tidak langsung kepada Tuhan.

Manusia di dunia juga pasti mempunyai hutang, khususnya dalam hal non-material. Kehadiran seorang manusia di muka bumi ini sudah dapat dipastikan melibatkan berbagai pihak. Keterlibatan banyak pihak itulah yang mengakibatkan adanya jasa yang harus dibayar oleh setiap manusia.

Tuhan adalah pemberi kehidupan bagi seluruh makhluk hidup di alam semesta ini. Para leluhur kitalah yang menjadi perantara dan membimbing kita sebagai manusia dalam hidup di dunia ini. Termasuk juga alam semesta yang menyediakan segala kebutuhan khususnya barang mentah untuk diolah oleh manusia sebagai bahan hidup. Maka dari sebab itulah manusia sudah sewajarnya membalas semua anugerah tersebut.

Anugerah adalah sesuatu yang harus disyukuri, maka sudah seharusnya ada suatu balasan dari kita sebagai manusia kepada Tuhan secara tidak langsung dan kepada alam atau manusia lain secara langsung. Balasan inilah yang akan menciptakan suatu keselarasan dan keseimbangan dalam alam. Misalnya dengan menjaga dan melestarikan semua ciptaan Tuhan sebagai wujud rasa syukur kita. Dengan begitu Tuhan akan selalu memberikan karunia-Nya kepada ciptaan-Nya, karena Dia tahu bahwa semua ciptaan-Nya terutama manusia mengerti terima kasih.

Adanya ajaran “nyadran” ini merupakan perwujudan dari konsep keselarasan dan keseimbangan yang diusahakan dalam kehidupan ini. Hal ini ditujukan agar mereka yang mempunyai andil dalam kehidupan kita masing-masing, dapat tenang dan menjadi suci di alam mereka sekarang.

Nyadran adalah upacara untuk menghormati khususnya arwah leluhur dan umumnya Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya dilakukan pada bulan Ruwah (Jw.), atau Sya'ban (H.).

Hubungan nyadran dengan ilmu filsafat sangat banyak, misalnya bila dilihat dari axiologinya, dapat dilacak segi etika dan estetikanya. Kemudian sudut epistemologi, metafisika, dan lain sebagainya tergantung siapa yang membahas dan dari sudut apa dia membahasnya.

Nyadran juga memberikan contoh kepada manusia, khususnya generasi muda agar mereka menyadari perannya yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk selalu menghormati para leluhur atau orang tuanya, baik yang masih ada ataupun sudah tiada.

Sepanjang pengetahuan penulis, masih sangat sedikit orang yang meneliti tema ini. Mungkin karena terbatasnya sumber informasi dan hampir punahnya ritual kegiatan tersebut, sehingga mengakibatkan tidak beraninya peneliti yang akan menulis tentang nyadran ini.

Tema ini menurut penulis cukup filosofis, karena berkaitan dengan pemikiran yang bersifat reflektif. Nyadran adalah perwujudan kesadaran manusia akan tidak berdayanya mereka bila tidak ada pihak lain yang terlibat, misalnya Tuhan, manusia lain terutama keluarganya, dan juga alam sekitar. Maka berdasar kesadaran itu manusia melakukan suatu balas jasa untuk berterima kasih dan bersyukur dengan mendoakan, memberikan imbalan, atau apapun agar hutangnya terbayar, walaupun tidak akan pernah bisa lunas. Kajian ini juga cukup kritis, karena mengangkat tema yang dirasa penulis kurang untuk diangkat atau jarang sekali diteliti.

Masalah yang kurang lebih akan dimunculkan dalam penulisan paper ini antara lain apakah nilai-nilai pendidikan etika yang terkandung di dalamnya, bagaimanakah unsur filosofis dalam upacara ini, dan beberapa kajian lain seperti adanya unsur agama Hindu Jawa dalam ritual Nyadran ini, yang akan diselipkan baik secara tersurat maupun tersirat.

Nyadran yang akan dibahas pada tulisan ini dibatasi di daerah Jawa Tengah khusunya kota Solo atau Surakarta , Jogjakarta dan sekitarnya. Sebab ada istilah nyadran juga di daerah lain khususnya di sekitar pinggir laut atau pantai yang pengertiannya berbeda dengan nyadran yang akan penulis bahas. Walaupun tujuannya hampir sama yaitu suatu perwujudan rasa terima kasih kepada Tuhan atas limpahan rahmatnya, tetapi cara mereka berbeda. Upacara yang mereka lakukan lebih pada selamatan atau ucapan syukur atas berhasilnya panen hasil laut. Pekerjaan yang dilakukan memang sebagian besar nelayan karena tempat tinggal mereka yang dekat dengan laut.

II. PEMBAHASAN

Upacara Nyadran adalah tema yang mempunyai sumber terbatas dan sulit dicari referensinya. Maka pencarian data dilakukan tentu saja yang pertama adalah di kepustakaan walaupun kurang, kemudian selanjutnya dapat dilakukan beberapa wawancara kepada orang-orang yang berkompeten. Langkah perburuan data bisa diteruskan dengan observasi langsung dengan mengikuti upacara Nyadran tersebut. Kebetulan penulis juga mempunyai keluarga yang rutin melaksanakan ritual ini.

Sebuah kepercayaan dan keyakinan dipercaya merupakan sebab timbulnya tindakan sesuatu. Maka dalam upacara Nyadran juga dibutuhkan keyakinan akan adanya Tuhan, karena ritual ini didasarkan atas agama. Sujud bakti dapat dilakukan bila dia mempunyai iman akan sesuatu yang dalam hal ini kepada Tuhan.

Unsur-unsur pendidikan yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan juga akan sedikit diulas dalam paper ini. Pada tahap sebelum pelaksanaan upacara Nyadran ini ada kegiatan yang dinamakan besik , disinilah orang akan saling membantu dan bergotong royong untuk membersihkan makam bagi mereka yang sudah meninggal, terutama keluarga.

Pelaksanaan upacara Nyadran juga dapat mengantar derajat keberadaan para leluhur dari alam antara menuju ke alam kedewataan atau surga dalam bahasa awamnya. Pelacakan kegunaan ritual ini dalam kehidupan manusia secara keseluruhan juga dapat diteliti sebagi tambahan kejelasan kajian ini.

Suatu upacara pasti mempunyai tata cara dalam pelaksanaannya, begitu juga dengan upacara Nyadran. Urut-urutan pelaksanaan ritual ini sebenarnya tergantung masing-masing tempat, waktu, dan penyelenggaranya. Secara garis besar, upacara Nyadran mempunyai urut-urutan tata cara sebagai berikut:

•  Tahap Besik , yaitu rangkaian kegiatan yang berupa membersihkan kuburan, halaman makam dan merehab supaya tampak bersih. Hal ini dikerjakan secara bersama-sama (gotong rotong) oleh masyarakat atau keluarga terutama yang mempunyai ikatan kekerabatan terhadap leluhur atau orang yang dimakamkan di pekuburan itu. Pelaksanaannya menggunakan sesaji yang sederhana.

•  Tahap puncak upacara Nyadran yang diatur sedemikian rupa dengan disertai sesaji yang lebih lengkap.

Upacara Nyadran juga menggunakan sarana atau sesaji yang juga disesuaikan dengan tempat, waktu, kebutuhan, dan pelaku. Sesaji memegang peranan penting karena merupakan sarana penghantar doa manusia kepada Tuhan.

Sebuah upacara tanpa upakara atau sesaji adalah kosong, sedangkan sesaji tanpa upacara adalah bohong. Maksudnya bila pengucapan doa atau mantra pada upacara tersebut tidak disertai sesaji maka sama dengan membohongi diri sendiri. Sebaliknya walaupun sesaji mewah tetapi tanpa ada upacara dan puja yang diucapkan maka sesaji tersebut tak akan mempunyai arti. Sesaji ini sehabis dipergunakan, dapat dimakan secara bersama-sama tanpa adanya dinding pembatas antar warga.

Pada tahap akhir penulisan karya ini akan disampaikan beberapa kesimpulan dan saran untuk membantu memberi masukan agar upacara nyadran ini akan terus berlanjut walaupun zaman semakin modern.

1. ETIKA

Etika yang dipergunakan sebagai pisau analisis untuk membahas upacara Nyadran ini mempunyai arti yang tidak semua orang mengetahuinya, karena istilah ini walaupun sudah tidak asing di telinga kita, tetapi banyak yang salah menggunakannya. Kata etiket tidak sama dengan etika, juga tidak sama dengan moral.

Etiket adalah nama lain dari norma kesopanan, sedangkan moral adalah ajaran untuk mengatur bagaimana manusia menjadi baik.

Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kiat harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral.(Magnis-Suseno,1985:14)

Etika selalu berhubungan erat dengan kesadaran. Tanpa kesadaran, etika tidak akan berjalan dan manusia hanya akan hidup secara mekanis saja. Hanya ikut-ikutan dan tidak sadar apa sebenarnya yang dia lakukan bukan merupakan ciri khas manusia.

Etika selalu kritis untuk mengamati realitas moral, seperti kata Franz Magnis-Suseno

Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma dan pandangan-pandanagn moral secara kritis. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja melainkan menuntut agar pendapat-pendapat moral yang dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral.(Magnis-Suseno,1985:18)

Etika juga mempunyai masalah-masalah pokok yang berhubungan dengan prinsip-prinsip. Prinsip ini menjadi landasan seseorang dalam mengambil keputusan. Menurut Louis O. Katsoff masalah itu disebutkan sebagai berikut:

•  Prinsip-prinsip apakah yang dapat dipakai sebagai dasar membuat tanggapan kesusilaan?

•  Perbuatan-perbuatan apakah yang dikatakan betul, artinya yang dapat dibenarkan dari segi kesusilaan?

•  Makna apakah yang dikandung oleh kata “seharusnya”, dan apakah yang merupakan sumber wajib (Obligation) tersebut?

•  Apakah tanggapan-tanggapan kesusilaan dapat diverifikasikan, dan jika dapat bagaimanakah caranya?

•  Makna apakah yang dikandung oleh predikat-predikat nilai?

(Katsoff, 1992:353-355)

2. NYADRAN

Upacara Nyadran yang dilakukan orang Jawa khususnya yang berada di daerah Solo, Jogjakarta dan sekitarnya ini hingga saat ini masih berjalan walaupun sudah hampir punah termakan oleh zaman. Biasanya manusia yang masih ingat akan jasa leluhurnya dan tahu terima kasihlah yang melaksanakan ritual ini.

Menurut A. Melati Listyorini dalam http://www.tembi.org/tembi/mati.htm yang diakses hari Selasa 21-03-2006 pukul 15.19

Nyadran adalah hari berkunjung ke makam para leluhur/kerabat yang telah mendahului. Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah atau bertepatan dengan saat menjelang puasa bagi umat Islam.

Nyadran adalah kegiatan selamatan kepada arwah orang yang sudah meninggal mendahului kita. Setelah selamatan pada hari ke 1000, barulah Nyadran dilaksanakan tiap tahunnya, biasanya menjelang hari Ramadhan.

Perlu diketahui bahwa upacara Nyadran ini juga mempunyai hubungan erat dengan agama Hindu. Hal ini dapat dilacak melalui asal katanya, yaitu kata dasar Sraddha.

Menurut Pustaka Suci Sarasamuccaya sloka 280, arti kata sraddha adalah

………mangkanang craddha, pitrtarpana, ya craddha ngaraya……..

artinya:

………begitupun sraddha, ptrtarpana; persembahan kepada leluhur yang disebut sraddha

 

Melihat apa yang dijelaskan di dalam Pustaka Suci Sarasamuccaya, dapat dijelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan Nyadran adalah pitrtarpana; persembahan kepada leluhur atau yang biasa disebutkan pula dengan pitara yadnya.

Pitara yadnya adalah merupakan salah satu penghayatan dari panca yadnya, yang isinya:

•  Dewa yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa

•  Rsi yadnya yaitu persembahan yang ditujukan kepada Maharsi

•  Pitara yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para pitara (leluhur)

•  Manusia yadnya yaitu korban suci untuk pendewasaan rohani manusia

• Buta yadnya yaitu korban suci untuk mengharmonisasikan kehidupan alam semesta secara menyeluruh

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa nyadran adalah suatu persembahan baik yang berupa sikap, tingkah laku maupun perbuatan yang dilakukan atas dasar keikhlasan (suci) yang diperuntukkan bagi para leluhur.

3. NILAI-NILAI ETIS UPACARA NYADRAN

Manusia sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya seharusnya senantiasa berpikir, bertindak, dan berkata yang baik dan benar.Hal ini juga harus dilandasi kesadaran sebagai unsur yang penting dalam etika.

Untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan terhadap alam dan manusia lain yang sama-sama diciptakan Tuhan ini, kita harus selalu bersikap baik kepada mereka, jika kita mau diperlakukan baik juga. Hal ini dapat dicerminkan dari pikiran, perkataan, dan tingkah laku kita sehari-hari.

Dalam agama Hindu ada yang dinamakan Tri Kaya Parisudha yang artinya 3 gerak/perbuatan yang harus disucikan, antara lain

a. Manacika (berpikir yang baik), meliputi:

•  Tan engin /tanadangkia ri drwyaning len artinya, ingin tiada dengki kepunyaan orang lain

•  Tan krdha ring sarwa sattwa artinya, tiada marah terhadap semua makhluk

•  Manitwhwa ri hananing karmaphala, artinya yakin sepenuhnya akan adanya hukum karma.

b. Wacika (lidah atau perkataan yang baik), meliputi:

•  Tan ujar ahala,artinya tiada mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati

•  Tan mitya, artinya tiada berbohong

•  Tan ujarapergas, artinya tiada mengeluarkan kata-kata yang kasar

•  Tan misuna, artinya tiada memfitnah

c. Kayika (gerak anggota badan/ berbuat yang baik), meliputi:

•  Tan amati-mati / ahimsa, artinya tiada membunuh (dengan sewenang-wenang)

•  Tan angahal-ahal, artinya tiada mencuri

•  Tan paradara, artinya tiada memperkosa / tiada berzinah

(Ida Pedanda Made Kemenuh, 1982-1983:9)

Etika manusia tidak lepas dari perbuatannya sendiri, untuk itu berbakti terhadap sesama manusia (sanak saudara) sangatlah perlu. Dalam ajaran Serat Wulang Reh berbunyi:

“Sembah lelima (dalam bahasa Jawa) artinya kita wajib menghormati terhadap yang lebih tua, antara lain:

•  “Sumembah dateng bapa biyung, artinya hormat kepada ayah dan ibu baik saat masih hidup ataupun sudah meninggal.

•  Sumembah dateng mara sepuh jaler lan istri, artinya hormat kepada mertua lelaki atau perempuan.

•  Sumembah dateng saderek sepuh, artinya hormat kepada saudara yang lebih tua.

•  Sumembah dateng guru, artinya hormat kepada guru.

•  Sumembah dateng gusti”, artinya hormat kepada Tuhan

(Sri Pakubuwono IV. Drs. Darusuprapto,1982:13)

Dalam ajaran etis orang Jawa juga terdapat asah,asih, dan asuh. Inilah sedikit penjelasan tentang 3 istilah tersebut.

•  Asah : kerelaan saling memberi petunjuk untuk menambah pengertian sehingga timbul saling harga menghargai atau dengan jaln berbakti.

•  Asih : adanya rasa saling cinta mencintai insan hamba Tuhan, menghormati sesama makhluk, saling jaga menjaga dan mencintai.

•  Asuh : hendaknya saling melindungi dan menjaga kedamaian anatara satu dengan yang lainnya atas dasar kemanusiaan yang luhur.

4. HUBUNGAN ETIKA DENGAN UPACARA NYADRAN

Setelah mengetahui nilai-nilai etis pada upacara Nyadran, yang ditulis diatas, maka tampaklah bahwa hubungan etika dengan upacara Nyadran ini sangatlah erat. Kedekatan 2 hal ini tercermin pada nilai-nilai etis yang etrkandung dalam upacara ini.

Namun nilai-nilai etis ini percuma saja, bila tidak diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Sikap dan sifat sesuai moral dan etika yang dilandasi oleh kesadaran dan suara hati harus selalu dilakukan setiap saat, selama masih berada di alam semesta ini. Maksudnya di saat kita masih hidup dan berinteraksi dengan makhluk lain. Tetapi kebaikan itu jangan hanya tampak di luar saja, melainkan juga di dalam hati dan pikiran kita.

Kemudian sikap dan sifat kita yang baik tersebut akan berakibat pada saat kita mati. Kita akan dihormati dan dihargai juga walaupun sudah tidak dapat berinteraksi dengan makhluk lain. Doa demi doa akan selalu dilayangkan kepada kita agar jiwa kita yang sudah menghadap Tuhan akan semakin sempurna dan suci. Dengan begitu, kita akan tenang di alam setelah kehidupan.

Nyadran kurang lebih juga begitu. Pendoaan kepada arwah orang yang sudah meninggal adalah salah satu wujud saling timbal balik atau balasan atas kebaikan yang telah dilakukan orang yang sudah mati tersebut. Hal ini juga menunjukkan kebaikan kita sebagai generasi yang masih hidup dalam menghargai dan menghormati orang yang sudah mati terutama keluarga. Tindakan ini juga berlaku saat kita masih sama-sama hidup di dunia.

Hal diatas membuktikan bahwa setiap pikiran, tingkah laku dan perbuatan kita di saat kita masih hidup akan berakibat saat kita mati nantinya. Seperti pepatah “Siapa menanam, dia juga yang akan menuai”.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Upacara Nyadran yang dilaksanakan di daerah Solo, Jogjakarta dan sekitarnya ini merupakan ritual tahunan yang berlangsung pada saat menjelang hari raya lebaran atau ramadhan. Pelaksanaan upacara ini memang tidak kelihatan seperti dulu karena sekarang sudah termakan zaman yang semakin maju.

Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Nyadran ini sebenarnya ada banyak, tetapi yang dibahas dalam tulisan ini adalah nilai-nilai etis atau etika dari upacara ini.

Nilai-nilai etis dalam upacara Nyadran bila dirunut dalam agama Hindu dan juga sebenarnya adalah ajaran-ajaran universal, ada dalam Tri Kaya Parisudha. Ajaran lain yaitu adanya asih, asah, dan asuh serta rasa hormat-menghormati antar keluarga khususnya dan sesama lain pada umumnya.

Nilai pendidikan etika terealisasi dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan pada sifat dan sikap mental yang harus terkendali.

Makna filosofis yang dapat dipetik dari upacara Nyadran ini yaitu perwujudan rasa terima kasih kepada para leluhur. Hal ini dikarenakan para leluhurlah yang mengantar kita untuk hidup di dunia ini. Dengan demikian hendaknya kita harus dapat meningkatkan derajat keberadaan para leluhur dari alam antara menuju alam kedewataan atau surga. Maka dari itu pelaksanaan upacara Nyadran sangat diperlukan.

Makna sosial kemasyarakatan juga terkandung dalam upacara Nyadran. Adanya kegiatan gotong royong baik antar warga maupun keluarga saat tahap besik mencerminkan rasa saling menghargai dan tolong menolong. Perlu diketahui bahwa dalam pelaksanaan upacara ini, khususnya besik, tidak ada pembedaan pangkat, derajat, kaya atau miskin, dan agama. Hal ini menunujukkan ikatan kekerabatan yang begitu erat.

2. Saran

Dalam melaksanakan upacara Nyadran hendaknya didasari rasa tulus ikhlas dan keyakinan, seperti pepatah Jawa “sepi ing pamrih rame in gawe” yang artinya jika kita melakukan suatu pekerjaan hendaknya jangan memikirkan imbalan atau hasilnya karena imbalan itu akan hadir sesuai dengan karmanya atau jasanya, termasuk disini dalam upacara Nyadran.

 

IV. DAFTAR PUSTAKA

Magnis-Suseno, 1985, Etika Dasar : Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral ,

Penerbit Kanisius, Yogyakarta .

Kadjeng, I Nyoman. 1993, Sarasamuccaya , Penerbit Hanuman Sakti, Jakarta .

http://www.tembi.org/tembi/mati.htm , diakses hari Selasa 21-03-2006 pkl. 15.19

Partokusumo, K.K.H, 1990, Nyadran Dalam Perspektif Budaya , Yayasan Ilmu

Pengetahuan Dan Kebudayaan “Panunggalan” Lembaga Javanologi,

Jogjakarta .

Kattsoff, L.O.1992, Pengantar Filsafat , Terjemahan:Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta .

 

Lanjut>
<Kembali
 
 
Menu
 
     
web lain
- UGM
 
 
 
 
   
 © Copyright 2006-07. jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id (v.1.1) Free web templates by MyFreeTemplates.com